DPMPTSP Bontang dan Paguyuban Sameton Bali Tampilkan Kisah dari Timur Pulau Dewata

Cahaya lampu panggung menyorot dua sosok yang beradu emosi "Cupak dan Gerantang." Di balik cerita klasik asal Bali itu, tersimpan pesan moral tentang kejujuran dan ketamakan. Bukan sekadar hiburan, pertunjukan ini menjadi cara Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang mengajak generasi muda merenungi nilai-nilai kehidupan dari warisan budaya.

DPMPTSP Bontang1967 Views

Adakata.id – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang tampil memikat dalam gelaran Bontang City Carnaval (BCC) 2025, Sabtu (25/10/2025). Bersama Paguyuban Sameton Bali, instansi ini membawakan lakon legendaris dari Bali Timur berjudul “Cupak dan Gerantang” kisah klasik yang sarat pesan moral tentang kejujuran dan ketulusan hati.

Lewat kostum berwarna-warni, alunan musik tradisional, serta gerak teatrikal yang memadukan unsur seni dan pesan moral, rombongan DPMPTSP berhasil mencuri perhatian penonton. Penampilan mereka menjadi simbol kolaborasi antara aparatur pemerintah dan komunitas budaya yang tumbuh di Kota Bontang.

Sekretaris DPMPTSP Bontang, Vinson, mengatakan kolaborasi ini merupakan bentuk dukungan instansinya terhadap pelestarian budaya lokal dan semangat kebinekaan di Bontang.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pelayanan publik juga bisa dikemas secara kreatif melalui seni dan budaya. Dengan menggandeng Paguyuban Sameton Bali, kami ingin menghadirkan penampilan yang bukan hanya menghibur, tapi juga mengedukasi,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut Vinson, pemilihan lakon Cupak dan Gerantang bukan tanpa alasan. Kisah dua bersaudara dengan sifat bertolak belakang itu dinilai relevan dengan nilai-nilai integritas dalam pelayanan publik.

“Cupak dan Gerantang itu simbol dua karakter manusia. Kami ingin menegaskan bahwa kejujuran dan integritas adalah hal yang tidak bisa ditawar, baik dalam seni, budaya, maupun dalam tugas sebagai pelayan masyarakat,” tambahnya.

Bagi DPMPTSP, keterlibatan dalam karnaval ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan bentuk keterbukaan untuk berinteraksi dengan masyarakat secara lebih hangat. Kolaborasi dengan komunitas Bali juga menjadi wujud nyata penguatan ikatan sosial di tengah keberagaman etnis Kota Bontang.

“Bontang ini kota yang plural, tapi justru di situ kekuatannya. Melalui seni budaya, kita bisa mempererat tali persaudaraan dan menumbuhkan rasa bangga terhadap keragaman,” ujar Vinson.

Lebih jauh, ia berharap pesan moral dari kisah Cupak dan Gerantang dapat menginspirasi generasi muda untuk tetap menjunjung nilai kejujuran dalam setiap langkah kehidupan. Baginya, panggung karnaval hanyalah media, sementara pesan utamanya adalah nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

“Kami ingin generasi muda melihat bahwa budaya bukan hanya soal tarian dan kostum, tapi juga tentang nilai. Kejujuran, ketulusan, dan keberanian menghadapi godaan itu penting. Sama seperti dalam pelayanan publik, kita harus terus berpegang pada integritas,” tuturnya.

Lakon Cupak dan Gerantang yang mereka pentaskan tak hanya membawa keindahan budaya Bali ke jalanan Bontang, tetapi juga menghadirkan pesan yang tetap relevan lintas zaman: bahwa kejujuran dan ketulusan akan selalu mengalahkan tipu daya dan keserakahan, baik di atas panggung budaya, maupun dalam kehidupan sehari-hari. (Adv/dpmptsp)

Penulis/Editor: Redaksi Adakata.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *