Adakata.id, Bontang — Distribusi investasi di Kota Bontang pada Triwulan III 2025 menunjukkan ketimpangan yang mencolok antarwilayah. Kecamatan Bontang Utara menyerap hampir seluruh investasi yang masuk, yakni mencapai 95,67 persen. Sementara Bontang Selatan dan Bontang Barat tertinggal jauh.
Dari total realisasi investasi Rp821,53 miliar, Bontang Utara menguasai Rp785,97 miliar. Bontang Selatan hanya menyerap Rp35,23 miliar, sedangkan Bontang Barat berada di posisi terbawah dengan Rp337,7 juta.
Kepala DPMPTSP Bontang Muhammad Aspianur menyebut bahwa kondisi ini dipengaruhi struktur kawasan usaha yang sejak lama terpusat di wilayah utara, terutama pada sektor industri kimia dan turunannya.
“Kontribusi terbesar masih berasal dari sektor industri kimia yang memang terlokasi di Bontang Utara. Struktur spasial kawasan ekonomi kita sangat mempengaruhi sebaran investasi,” jelasnya.
DPMPTSP Bontang juga mencatat realisasi investasi Triwulan III mencapai 75,85 persen dari target tahunan Rp2,5 triliun. Namun, capaian itu tidak diiringi pemerataan sektor. Pada PMDN, industri kimia dasar dan farmasi mendominasi 93,20 persen, sementara PMA banyak masuk ke perumahan dan industri makanan.
Kepatuhan pelaporan LKPM juga masih rendah, yakni baru 44,17 persen dari total pelaku usaha yang beroperasi. Aspianur menegaskan, pemerintah daerah mulai merancang strategi pemerataan melalui pembukaan kawasan usaha baru dan penyederhanaan perizinan berbasis wilayah.
“Target kita bukan hanya menaikkan angka investasi, tapi memastikan dampaknya merata,” tegasnya. (adv/dpmptspbontang)
Penulis/Editor: Redaksi Adakata.id






