
Adakata.id, Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berupaya menjadikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai penggerak ekonomi lokal. Selain mendukung pemenuhan gizi anak sekolah, program ini diharapkan membuka peluang bagi petani, peternak, dan pelaku usaha perikanan di daerah untuk memasok kebutuhan pangan dapur MBG.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias, mengatakan tantangan yang perlu dibenahi saat ini ialah rantai pasok bahan pangan. Pasalnya, sebagian kebutuhan dapur MBG masih dipasok dari luar daerah.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian ialah beras. Menurut Ananias, kualitas beras yang dihasilkan penggilingan lokal rata-rata masih berada pada kategori medium, sedangkan kebutuhan dapur MBG memerlukan beras dengan kualitas premium.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Kukar merencanakan alokasi anggaran pada 2027 guna mendukung modernisasi mesin penggilingan padi lokal. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan mutu beras hasil produksi petani Kukar agar mampu memenuhi kebutuhan dapur MBG.
“Kami menyoroti rantai pasoknya karena saat ini bahan pangan masih banyak dari luar daerah. Beras misalnya, dapur MBG butuh kualitas premium, sementara penggilingan lokal kita rata-rata baru memproduksi kelas medium. Makanya atas instruksi Bupati, tahun 2027 kita siapkan anggaran penunjang agar penggilingan kita bisa cetak beras premium,” ujar Ananias, Jumat (16/10/2026).
Upaya memperkuat pasokan pangan lokal juga dilakukan pada komoditas lain. Ananias menyebut kebutuhan telur ayam telah terserap dengan baik dari peternak setempat. Sementara itu, untuk komoditas seperti kentang yang belum dibudidayakan secara masif di Kukar, pemerintah daerah menyarankan penggunaan bahan pangan alternatif lokal, seperti ubi jalar, yang memiliki nilai gizi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan menu.
Di sisi distribusi, Badan Gizi Nasional (BGN) disebut menghadirkan aplikasi berbasis marketplace di tingkat kecamatan. Platform tersebut ditujukan untuk mendukung transparansi distribusi sekaligus memudahkan dapur MBG menyerap bahan baku langsung dari petani dan pelaku usaha di sekitar wilayah operasionalnya.
Ananias menyampaikan, sebanyak 48 dapur MBG telah beroperasi di Kukar. Pelaksanaan program tersebut, termasuk fasilitas baru di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) seperti Kutai Lama, disebut berjalan lancar.
Terkait isu kesehatan yang sempat beredar di Kecamatan Sebulu, Ananias mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium memastikan insiden tersebut tidak berkaitan dengan menu MBG.
Sementara itu, sejumlah wilayah terpencil, seperti Tali Baru, Muara Pantowan, dan Sematin, masih memerlukan pendekatan khusus dari BGN. Keterbatasan jumlah penerima manfaat di wilayah tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan program.
Meski demikian, Pemkab Kukar berharap MBG dapat memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya terhadap pemenuhan gizi anak, tetapi juga terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Harapan kita, program MBG tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi, kecerdasan anak, dan penurunan stunting, tetapi juga membuka lapangan kerja di dapur-dapur serta memutar roda ekonomi para petani, peternak, dan pembudidaya ikan di Kukar,” tutup Ananias. (Am/Advdiskominfokukar)
Penulis: Pewarta
Editor: Redaksi Adakata.id










