Adakata.id, Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) memperkuat pencegahan stunting melalui kolaborasi lintas sektor hingga tingkat keluarga. Melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB), sebanyak 477 Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang melibatkan 1.431 kader menjalankan pendampingan di 20 kecamatan.
TPK melibatkan unsur tenaga kesehatan, kader keluarga berencana (KB), dan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Pendampingan tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga mencakup edukasi pola asuh, kesehatan ibu dan anak, serta kondisi sanitasi lingkungan.
Sekretaris DP2KB Kukar, Sri Lindawati, mengatakan keterlibatan tenaga kesehatan dalam TPK memperkuat koordinasi antara DP2KB, Dinas Kesehatan, dan fasilitas kesehatan di wilayah masing-masing.
“Kami bermitra erat dengan jajaran dinas kesehatan. Lewat 477 TPK yang melibatkan 1.431 kader ini, pendampingan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari edukasi ibu hamil hingga pemantauan tumbuh kembang baduta secara rutin,” ujar Sri Lindawati di Tenggarong, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Sri, salah satu tantangan dalam pencegahan stunting adalah mendorong perubahan perilaku di tingkat keluarga. Tantangan tersebut berbeda antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Di kawasan perkotaan, misalnya, kesibukan orang tua dan pola hidup dapat memengaruhi konsistensi pemantauan tumbuh kembang anak, termasuk kehadiran di posyandu. Sementara di sejumlah wilayah pedesaan dan bantaran sungai, tantangan dapat berupa keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, pemenuhan sanitasi dan jamban sehat, serta paparan asap rokok di lingkungan keluarga.
Karena itu, Sri menilai edukasi dan pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar keluarga memahami faktor-faktor yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.
“Edukasi harus terus-menerus disampaikan tanpa putus. Baik di kota maupun di desa, kunci utamanya adalah membangun kesadaran bahwa pengasuhan yang benar serta lingkungan bebas asap rokok adalah pondasi utama menyelamatkan anak dari risiko stunting,” katanya.
Melalui pola pendampingan tersebut, DP2KB Kukar mendorong TPK tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi penghubung antara keluarga dengan layanan kesehatan dan program pemerintah ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Pendekatan lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan stunting sejak dari keluarga, terutama pada periode kehamilan hingga masa awal pertumbuhan anak. (Am/Advdiskominfokukar)
Penulis: Pewarta
Editor: Redaksi Adakata.id











