Adakata.id, Bontang – Spesialis Gizi Klinik RSUD Taman Husada Bontang, dr. Naldi Yanwar, Sp.GK, mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dalam menjaga pola makan dan gaya hidup, terutama yang berkaitan dengan konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan minuman berkafein. Menurutnya, kebiasaan tersebut berpotensi memicu berbagai penyakit kronis seperti diabetes mellitus dan gangguan jantung.
Ia mencontohkan, kombinasi konsumsi nasi dan mi instan dalam satu waktu termasuk pola makan yang sangat tinggi karbohidrat dan memiliki indeks glikemik tinggi.
“Indeks glikemik itu menunjukkan seberapa cepat makanan diubah menjadi glukosa dalam tubuh. Nasi, mi, dan madu termasuk tiga tertinggi. Kalau ini dikonsumsi berlebihan dan tanpa diimbangi aktivitas fisik, sangat berisiko memicu diabetes,” jelasnya belum lama ini.
Lebih lanjut, dr. Naldi menegaskan bahwa pola makan seperti itu harus diimbangi dengan olahraga teratur.
“Kalau pola makan karbo tinggi tapi aktivitas minim, apalagi hanya rebahan, ini akan memperparah risiko penyakit metabolik,” ujarnya.
Selain pola makan, ia juga menyoroti konsumsi kopi berlebih, baik dengan atau tanpa gula. Meski kopi tanpa gula lebih minim kalori, kandungan kafein tetap bisa membebani kerja jantung. Kafein merangsang jantung bekerja lebih keras. Kata dia, efeknya mungkin tidak langsung, tapi jangka panjangnya pasti berdampak ke jantung.
Tren konsumsi kopi sebelum olahraga, terutama kopi hitam atau americano, juga dinilai memiliki efek serupa dengan minuman berenergi. Menurutnya, zat-zat dalam minuman tersebut bekerja dengan merangsang curah jantung, yang bila dikonsumsi terus-menerus bisa berakibat ffatal.
“Semua itu cara kerjanya sama, merangsang jantung agar memompa darah lebih cepat. Kalau terlalu sering, ya jantung yang kalah,” imbuhnya.
Ia bahkan menyinggung soal penggunaan suplemen atau stimulan penambah tenaga seperti yang sering digunakan oleh atlet atau pegiat olahraga berat.
“Sama seperti penggunaan Viagra atau doping, semua intinya memaksa jantung bekerja ekstra. Padahal jantung itu organ vital, kalau rusak atau berhenti bekerja, konsekuensinya bisa fatal,” tegasnya.
Sebagai contoh, ia menyebut kasus selebritas yang meninggal dunia saat olahraga, meski terlihat bugar secara fisik. Hal tersebut bisa saja karena ada penggunaan penambah stamina yang tidak disadari membebani jantung.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola makan seimbang, cukup bergerak, dan menghindari konsumsi berlebih makanan atau minuman yang bisa memicu gangguan metabolik.
“Olahraga itu penting, tapi tetap harus disesuaikan dengan kemampuan tubuh dan jangan sampai dibarengi dengan kebiasaan yang justru membahayakan,” tutupnya. (adv/rsudtamanhusadabontang)
Penulis: Irha
Editor: Sunniva Caia












